Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan


Ferdinand SD
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang)

Thema hari lingkungan Hidup yang di keluarkan oleh United Nation Environment Programme (UNEP) di Tahun 2013  yaitu: “Eat, Think, Save (Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi untuk selamatkan Lingkungan) tidak lain mencoba membuka kesadaran masyarakat tentang perlunya mempertimbangkan dan mempraktikan pemanfaatan bahan makanan dan sumber daya alam secara arif dan bijaksana.
Konsumsi pangan yang berkelanjutan merupakan stressing thema hari lingkungan tahun ini. Think before you eat and save the environment, artinya persuasi untuk mengkonsumsi bahan pangan yang memang dibutuhkan seperlunya, kuantitasnya dengan menghindari pembuangan bahan pangan tersebut demi menjaga kelestarian lingkungan (Effendi, 2013).
Bagaimana dengan kita di Papua, apakah kita  telah mengubah perilaku dan pola konsumsi kita untuk menyelamatkan lingkungan? Apakah kita telah melakukan penghematan-penghematan terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang ada? Apakah pola konsumsi kita di Tanah ini menunjukkan pola konsumsi yang berkelanjutan; tanpa ada pemborosan terhadap pemanfaatan dan pemakaian sumberdaya alam, penggunaan air, lahan atau sumberdaya alam lainnya?
Papua berbeda dengan provinsi lainnya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbeda dalam ketersediaan sumberdaya alam (Stock) atau sumberdaya alam yang telah dimanfaatkan (flow). Pola pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat adat berbeda dengan masyarakat adat lainnya di Indonesia. Keterikatan masyarakat adat terhadap sumberdaya alam telah terstruktur dalam sistem sosial maupun stratifikasi sosial yang ada.
Sistem sosial di Papua telah terstruktur secara budaya. Dalam Sistem Sosial di Papua terdapat sejumlah aktor-aktor individual (Ondoafi, Kepala Suku) yang saling berinteraksi dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan atau fisik, dan terstruktur secara kultural.
Parson (1951) mengatakan bahwa Sistem Sosial: Terdiri dari sejumlah aktor-aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti mempunyai kecenderungan untuk “mengoptimalkan kepuasan” yang hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan dimediasi dalam term system symbol bersama yang terstruktur secara cultural (Parson, 1951 halaman 5-6 dalam George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (edisi keenam), 2011 Halaman 124).
Interaksi antara aktor-aktor di Papua terlembaga dalam institusi atau kelembagaan adat yang hingga turun temurun masih ada dan diakui. Collins (1975) mengatakan stratifikasi sosial berupa institusi yang menyentuh begitu banyak ciri kehidupan seperti kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, dan gaya hidup (Collins 1975 halaman 49 George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (edisi keenam), 2011 Halaman 161).
Kekayaan, politik, karier dan gaya hidup merupakan arus globalisasi yang kita rasakan di Papua. Teori Globalisasi (Kellner 2002 halaman 287 dalam George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori  Sosiologi Modern (edisi keenam), 2011 Halaman 590). Globalisasi melibatkan pasar kapitalis dan seperangkat relasi sosial dan aliran komoditas, kapital, teknologi, ide-ide, bentuk-bentuk kultur, dan penduduk yang melewati batas-batas nasional via jaringan masyarakat global transmutasi teknologi dan kapital bekerja sama menciptakan dunia baru yang menglobal dan saling terhubung. Revolusi teknologi yang menghasilkan jaringan komunikasi komputer, transportasi dan pertukaran, merupakan pra anggapan (presupposition) dari ekonomi global, bersama dengan perluasan dan sistem pasar kapitalis dunia yang menarik lebih banyak area dunia dan ruang produksi perdagangan dan konsumsi ke dalam orbitnya.
Adanya globalisasi yang merambah kedalam sendi-sendi kehidupan menciptakan dinamika sosial yang signifikan. Secara empris dapat dikatakan bahwa konflik sosial akibat pemanfaatan sumberdaya alam sering terjadi di Papua.  Banyak kelompok-kelompok tertentu menikmati keuntungan dari ketersediaan sumberdaya alam yang ada di Papua. Sebut saja kelompok investor dan kelompok masyarakat adat sering terjadi konflik (Pemalangan) atau Kelompok pemerintah dan kelompok adat dan bahkan antara kelompok investor dan kelompok pemerintah. Berdasarkan Teori Struktural Konflik (P Jones Pengantar Teori-teori Sosial, 2010 Halaman 22) disebutkan bahwa  Struktur social terdiri dari kelompok-kelompok yang menikmati keuntungan yang tidak setera, kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok ini dalam keadaan konflik satu sama lain, karena ketidaksetaraan itu dihasilkan dari dominasi dan eksploitasi kelompok yang beruntung terhadap kelompok yang kurang beruntung.
Dinamika konflik terus berlanjut dari tahun ke tahun. Konflik lebih didasarkan oleh eksploitasi yang dilakukan olek kelompok tertentu dengan dorongan ekonomi. Dalam Teori Determinisme Ekonomi  yang sering menjadi kontraversi (Lee dan Newby 1983 dalam PIP Jones Pengantar Teori-teori Sosial, 2010 Halaman 97) disebutkan Bahwasannya semua perkembangan social, politik dan intelektual disebabkan oleh perubahan ekonomi dan bahkan semua tindakan manusia dimoitivasi oleh ekonomi.
Untuk itu agar perilaku dan pola konsumsi terhadap sumberdaya alam di Papua dapat berkelanjutan maka dibutuhkan hal-hal sebagai berikut:
1.       Tindakan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat Papua tetap dipertahankan dengan menjaga hubungan yang harmonis diantara individu-invidu yang berada dalam system sosial. teori Tindakan (PIP Jones Pengantar Teori-teori Sosial, 2010 Halaman 30): Realitas social tidaklah factual, objektif, dan tegas. Realitas hanya menjelma sesuai dengan apa yang dipikirkan pelaku yang terlibat dalam interaksi adalah nyata, dan apa yang mereka pikirkan nyata menentukan tindakan apa yang akan diambil. Oleh karena itu relaitas hampir dipastikan adalah kreasi yang dinegosiasikan oleh individu-individu tertentu yang terlibat dalam interaksi satu sama lain.
2.       System sosial yang selama ini ada dalam kehidupan masyarakat Papua (Kearifan lingkungan masyarakat adat) yang pada gilirannya membentuk aturan-aturan kebudayaan agar tetap dipertahankan. Suatu system social bekerja seperti system organic. Masyarakat terbentuk dari struktur-struktur aturan kebudayaan yakni keyakinan dan praktik yang sudah mantap, selanjutnya  terhadap keyakinan dan praktik itu warga masyakat tunduk dan taat. (Teori Fungsional (Durkheim 1974 dalam PIP Jones Pengantar Teori-teori Sosial, 2010 Halaman 53):
3.       Mencegah adanya konsep-konsep pemikiran kapitalis dalam pemanfaatan sumberdaya alam di Papua. Hal ini akan melemahkan pola pikir masyarakat adat yang pada akhirnya akan menciptakan kehidupan individualism dalam masyarakat adat. Dalam Teori Kritikal (Aliran Frankfurt) (PIP Jones  Pengantar Teori-teori Sosial, 2010 Halaman 102): Tiga ciri kebudayaan kapitalisme dalam fungsi khusus intrumen ini adalah cara berpikir yang disebut berpikir instrumental, peranan budaya massa atau popular dalam melemahkan proses berpikir warga masyarakat dan membuat mereka tidak mampu menjadi kritis terhadap dunia serta menonjolnya tipe kepribadian orang yang tidak hanya menerima dominasi tetapi juga secara aktif menginginkannya.
4.       Hubungan sosial dalam  kehidupan masyarakat tetap terjaga, agar dalam pemanfaatan sumberdaya alam pengaruh invidual tidak melampaui pengaruh kehidupan sosial. Seperti yang diungkapkan dalam Teori Materialisme Dialektika (Karl Marx) (Prof. Dr. I.B. Wirawan, Teori-teori Sosial Dalam Tiga Paradigma Fakta social, Definisi Sosial dan Perilaku Sosial, 2012 Halaman 9): Bukan kesadaran manusia untuk menentukan keadaan social, melainkan sebaliknya keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran manusia.
Dengan demikian maka diharapkan perilaku dan pola konsumsi terhadap sumberdaya alam di Papua tetap berkelanjutan, sampai dengan anak cucu kita. Semoga.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Papua Pos Edisi Rabu, 5 Juni 2013
ATBC 2010 News

Meet ATBC 2010 organizers at ATBC 2009 (2009-07-26) Many key organizers of ATBC 2010 will be at the ATBC meeting in Marburg. Please find us to discuss matters for next year's meeting.
Mailing list (2009-05-15) Please sign up on our atbc2010-news mailing list
ATBC 2009 (2009-05-15) The 2009 ATBC meeting will be in Germany in July


Background

The ecological crisis
We are entering the age of perpetual environmental crisis, with multiple factors interacting to produce serious threats to human well-being. Over the past few years, people have woken up to the reality of anthropogenic climate change, and we are now discovering that we are already too late to prevent major temperature and rainfall changes. Climate impacts on agricultural land and steadily increasing human population have caused serious food shortages, and are driving new conversion of tropical forests to farmland. Fossil fuels are a major carbon source, and their finite stocks are increasingly expensive to extract, leading to increased demand for tropical biofuels. Because these processes directly threaten human development and survival, attention is being drawn away from their impact on natural ecosystems and tropical biodiversity. This meeting will highlight the threat to the survival of tropical biodiversity from the synergistic effects of food and energy shortages and climate change. In parallel, we will discuss and broadcast the many ways in which tropical biodiversity and ecosystems are fundamentally important for sustainable human development.

ATBC
The Association for Tropical Biology and Conservation is the world's largest professional society devoted to the furtherance of tropical biology and tropical conservation. It was founded in 1963 to promote research and to foster the exchange of ideas among biologists working in tropical environments. It has grown into a truly global organization with members from over 100 countries. In 2006, an Asia-Pacific Chapter was formed to further these objectives in this region, but the general annual meeting has not yet met in Southeast Asia.

ATBC 2010 in Indonesia
The biological nature of Indonesia is unmatched in the world. The range of ecosystems is astounding, from the world's most diverse coral reefs and most majestic tropical rain forests to tropical dry forest and alpine meadows. The archipelago has played a major role in the development of evolutionary and ecological theory, through A. R. Wallace's travels, and studies of the recolonization of Krakatau volcano. To experience this `biological paradise' is for many biologists a professional dream. We invite you to realize this dream, by attending the ATBC 2010 meeting, and then visiting some of Indonesia's biological and cultural wonders.
Within Indonesia there are many active biologists, in government institutions, universities, and NGOs, as befits the fourth most populous country in the world. By hosting an ATBC annual meeting in Indonesia, we hope to spread cutting edge research findings to local and regional biologists, and to the general public, as well as to facilitate new friendships and partnerships that will lead to increased research on Indonesia's amazing biodiversity and ecosystems. In turn, we hope that this increased activity will have a strong positive effect on education and conservation, helping Indonesia, and other tropical countries, face the imminent food, energy and climate crisis.

Symposia and workshops
We will offer a balance of pure and applied symposia themes. Because of the unique archipelago nature of Indonesia, we will also be highlighting marine biology at this ATBC meeting.
Call for symposia and workshops: we are now accepting proposals (see here for symposia and workshop details and proposal requirements).

Symposia under discussion
# Using REDD for forest conservation

# Ecosystem services: economic approaches
# Restoration of tropical moist forests (contact Mark Ashton
# Oilpalm plantations, HCVs, and biodiversity conservation
# Wallace and Wallacea
# Animal-plant relationships in the Myristicaceae and consequences for plant recruitment in a changing tropical environment (contact: Pierre-Michel Forget, Muséum National d’Histoire Naturelle; Kimberly Holbrook, Estacion Donana, Sevilla, Spain; Simon Queenborough, Imperial College)
# Traditional knowledge and the management of tropical ecosystems
# Access to science and knowledge of tropical biodiversity: rights, responsibilities and policy aspects (contact Didi Indrawan)
# Southeast Asian forest composition and dynamics (contact Stuart Davies)
# Understanding ecological processes common to terrestrial and marine systems: A symposium in honor of Joseph H. Connell (contact Kyle Harms)
# Human health and biodiversity
# Modern genomics for biodiversity studies (contact Chuck Cannon)
# The dominance of small scale fisheries: challenges for management and conservation
# Climate change and coral reef conservation
# Meeting CBD targets for national biodiversity inventory (contact Teguh Triono)
# Stability of tropical rainforest margins, linking ecology and socio-economy (organized by STORMA)
# New Guinea biodiversity and ecosystems
# Tropical peatlands: biodiversity, disturbance and climatological function (contact Gusti Anshari)
# African ecology (contact Rob Pringle)
# Mutualism in a changing climate (contact Rhett Harrison)
# Geographical evolution, genetics and conservation of marine biodiversity
# Phylogenetic structure of tropical communities (contact Nathan Swenson)
# Topical fungi: evolution and ecology (contact Anne Pringle)
# Amphibian research and conservation in Tropical Asia and Australia (contact Mirza Kusrini)

Evening events
`The Biodiversity of Indonesia,' a slide show by National Geographic photographer and biologist, Tim Laman.

Workshops planned
Statistics and paper writing (sponsored by the ATBC Asia-Pacific chapter, contact Rhett Harrison)
Economic Tools for Conservation (sponsored by the Conservation Strategy Fund, contact Claudia Romero, and Kim Bonine)


Meeting organization
Steering committee
Adi Basukriadi (chair), Dean, Faculty of Maths and Natural Sciences, University of Indonesia

Organizing committee
Dedy Darnaedi (chair), Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences
Didi M. Indrawan (secretary), University of Indonesia

Academic committee
Campbell Webb (chair), Arnold Arboretum of Harvard University
Wellyzar (secretary), Dept. Biology, University of Indonesia

Regional representatives
Bandung, ITB: Tati S. Subahar, Associate Professor, SITH
Makassar, UNHAS: Ngakan Putu Oka, Faculty of Forestry
Manado, UNSRAT: John Tasirin
Manokwari, UNIPA and BPK: Charlie Heatubun
Padang, UNAND: Wilson Novarino, Jurusan Biologi, FMIPA
Palu, UNTAD: Fadly Tantu
Pontianak, UNTAN: Gusti Anshari, Center for Wetlands People and Biodiversity
Yogyakarta, UAJY: Pramana Yuda, Fakultas Teknobiologi
Yogyakarta, UGM: Tjut Djohan, Professor, Faculty of Biology

Partners and Sponsors
Hosts
The Research Center for Biology of the Indonesian Institute of Sciences
The Faculty of Mathematics and Natural Sciences of the University of Indonesia

Primary Partners
The Arnold Arboretum of Harvard University
The Center for International Forestry Research (based in Bogor, Java, Indonesia)
Bogor Agricultural University (Institut Pertanian Bogor)
The Indonesian Biology Association (Perhimpunan Biologi Indonesia) Yayasan Keanekaragaman
Hayati Indonesia
(KEHATI) -->
The Tropical Landscapes Joint Venture of James Cook University and CSIRO
The Asia-Pacific Chapter of ATBC

Message to potential sponsors
This meeting offers an unprecedented opportunity to support biodiversity science in Indonesia and Southeast Asia. Bringing researchers, students and conservationists together in person is vital for seeking new ways to solve the current biodiversity crisis, and for the development of the next generation of scientists and practitioners. We are seeking high-level exposure within Indonesia and the region, and your connection with this meeting will be a clear mark of commitment to natural resource conservation and human resource development.

We are seeking support both for:
Foundational meeting costs (offering to opportunity to be a Primary Sponsor), and
Scholarships for attendees (we are looking for support for 200+ Indonesian and regional participants)
Please contact us at partnership@atbc2010.org.

Website and promotional photographs
We are very grateful to Tim Laman (timlaman.com), and Erick Danzer (erickdanzer.com) for permission to use their photographs:
Tim Laman: various images, in boxs, credited directly
Erick Danzer: Prambanan temple (top banner, far left)
(All other uncredited photos were taken by Cam Webb)

Timeline to the meeting
(Previous ATBC meetings)

Key dates
15 December 2009: Call for public symposia proposals closes
15 February 2010: Abstracts for oral and poster submissions due
15 March 2010: Earlybird (base price) registration closes
30 June 2010: Last internet registration (onsite registration only now)
12 July 2010: Pre-meeting workshops and fieldtrips
19 July 2010: Council meeting, arrivals, welcome mixer
20-23 July 2010: Main meeting
24 July 2010: Post-meeting workshops and fieldtrips

Related events
July 2009
24-26: Kongres Biologi XIV dan Seminar Nasional XX, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Malang, Indonesia (organized by PBI)
27-30: ATBC 2009 meeting in Germany
August 2009
16-21: The 10th International Congress of Ecology, INTECOL, will be held in Brisbane, Australia September 2009
Charles Darwin Symposium, Darwin, Australia
Southeast Asian Gateway Evolution, London, UK
October 2009
25-31st: 5th International Canopy Conference, organized by ATREE: "Forest canopies: Conservation, Climate change and Sustainable use," Bangalore, India
January 2010
1st: The UN has declared 2010 as the International Year of Biodiversity (IYB). See the Biodiversity Indicators Partnership site.
June 2010
13-18: 5th International Symposium-Workshop on Frugivores and Seed Dispersal, Montpellier, France.
July 2010
19-23: ATBC 2010 meeting in Indonesia
August 2010
15-25: The `Ant course,' Danum Valley, Sabah
23-27: Flora Malesiana meeting in Singapore
October 2010
Conference of the Parties (COP 10) to the Convention on Biological Diversity (CBD), Nagoya, Japan.
December 2010
31st: The deadline for the CBD 2010 Biodiversity Targets.

Field trips
Indonesia is one of the most amazing countires to visit as a biologist. Come and enjoy one of these trips, currently being planned:
Bali Botanic Gardens (one day): exquisite high-elevation tropical gardens and montane forest, a two-hour bus ride from Sanur,
Diving trip (one day): an introduction to the fringing reefs of Bali with an internationally-accredited dive tour operators; dives can also easily be organized for small groups on any day of the meeting,
Cultural tour of Ubud (one evening): a one-hour bus ride to the hill town of Ubud, craft shopping, a Balinese feast, and traditional Kecak dance,
Bali Barat National Park (two days): widely-regarded as one of the most progressive marine parks in the world, it also contains the natural vegetation of Bali,
Alas Purwo National Park (two days): a large, wild area of grasslands and monsoon forest on the densely-populated island of Java, and home to wild cattle and wild dogs; An excellent site to confront the conservation challenges of Indonesia today.
Birds and Wallace's Line (two days): spend a day bird watching in Bali, then travel by ferry to Lombok, on the other side of Wallace's line, for a different bird community,
Komodo (two days): see the famous Komodo dragons, and stark dry forest,
Java: Krakatau/Bogor/Ujung Kulon (four days): renowned botanic garden at Bogor, Ujung Kulon National Park (with the last population of the Javan rhino) and succession on Krakatau volcano,
Kalimantan (four days): visit the beautiful Gunung Palung National Park in West Kalimantan, with Bornean lowland dipterocarp rain forest.

Contact information
Enquiries
General enquiries: please email info_AT_atbc2010_DOT_org
Questions for the Organizing Committee: please email Didi M. Indrawan (jamblang_AT_cbn_DOT_net_DOT_id), OC secretary
Questions for the Academic Committee: please email Cam Webb (cwebb_AT_oeb_DOT_harvard_DOT_edu), AC chair

Secretariat
Mailing address: ATBC 2010 secretariat, LIPI-PPB, Lantai IV, Gedung Kusnoto, Jl. Juanda No. 18, Bogor 16002, Indonesia

Mailing list
Please sign up on our atbc2010-news mailing list for up-to-date information

8th Flora Malesiana Symposium




1st Announcement

8th Flora Malesiana Symposium
23-27 August 2010
Singapore Botanic Gardens

The Past, Present and Future of Flora Malesiana



The Flora Malesiana Symposium is an important forum for the exchange of taxonomic and systematic ideas and new research findings from the study of the flora of Malesian region. Today, it has become a large international gathering of botanists and post-graduate students who study the diversity, ecology, biogeography, evolution and conservation of plants from tropical SE Asian countries, including Thailand, Malaysia, Singapore, Indonesia, the Philippines, Brunei, East Timor and Papua New Guinea, as well as bordering countries.

Beginning in 1989, the Flora Malesiana Symposium has been held every three years alternating between a country in Malesia and a collaborating country outside the Malesian region. The eighth Flora Malesiana Symposium will be held in Singapore from 23 to 27 of August 2010, and hosted by the Singapore Botanic Gardens. The occasion also celebrates the 150th anniversary of the Singapore Botanic Gardens. The Gardens, with its historic Herbarium and official journal, Gardens Bulletin Singapore, have contributed significantly to the study of the Malesian flora. The host country and the hosting institution in Singapore are pleased to have the privilege to organise the 8th Flora Malesiana Symposium. Together with the Flora Malesiana Foundation, the Singapore Botanic Gardens welcomes you all to attend the symposium in August 2010.

Organising Committee:
Chairman:
Dr. Chin See Chung, Director of Singapore Botanic Gardens
Co-Chairman: Dr. Benito C. Tan, Keeper of SING Herbarium/Library, SBG
Finance: Dr. Chee Len Lim-Ho, Assistant Director, SBG
Secretary: Ms Serena Lee, Herbarium Manager, SBG
SBG Committee members for scientific programme:
Dr. George Staples, Senior Researcher, The Herbarium
Dr. Mark Hughes, Senior Researcher, The Herbarium
Dr. Hubert Kurzweil, Senior Researcher, The Herbarium
Dr. Jana LEONG-Škorničková, Senior Researcher, The Herbarium
Dr. Nura binte Abdul Karim, Plant Records Manager
Dr. Yam Tim Wing, Senior Researcher, Orchid Breeding Lab
Symposium Advisors:
Prof. Dr. E. F. Smets, Director of National Herbarium of the
Netherlands and Flora Malesiana Foundation
Dr. Marco Roos, Flora Malesiana Foundation
Dr. D. DARNAEDI, Flora Malesiana Foundation and LIPI, Indonesia
Address and Website:
The 8th Flora Malesiana Organising Committee
Singapore Botanic Gardens
1 Cluny Road, Singapore 259569
Fax. +65-64674832
Email: Floramalesiana2010@nparks.gov.sg

Main Theme:
“The Past, Present and Future of Flora Malesiana”

Keynote Speaker:
Prof. Dr. E.F. SMETS, Director of National Herbarium of The Netherlands, Leiden University Branch; Chairman of Flora Malesian Foundation


Plenary Session Speakers:
Prof. Sir Peter CRANE (University of Chicago): The origin of flowering plants
Prof. Robert HALL (University of London): Plate tectonics of the SE Asian region
Prof. Jan SLIKKERVEER (Leiden University): Recent developments in Indonesian Jamu

General Topics:
Session 1: Taxonomy, Biosystematics and Phylogenetics
Session 2: Ethnobotany and Economic Botany
Session 3: Ecology, Pollination Biology and Biogeography
Session 4: Evolution, Adaptation and Paleobotany
Session 5: Biodiversity and Conservation
Special topic sessions: Sympetalous Dicot Families not yet treated for Flora
Malesiana, Orchidaceae, Zingiberaceae, Gesneriaceae, Begonia, ferns, bryophytes and fungi
Workshops: Handbook of Malesian Mosses, Red-listing, CBD/CITES and Plant Biodiversity Inventory

The Committee for Scientific Programme welcomes suggestions of other special topic sessions and workshops.

General Programme:
Day 1: 23 August (Monday): Registration, opening ceremony, keynote speech, plenary
sessions, special topic and poster sessions, and welcome dinner.
Day 2: 24 August (Tuesday): Plenary session, topic and poster sessions, special
workshops.
Day 3: 25 August (Wednesday): Sightseeing tours of Singapore Botanic Gardens,
Bukit Timah Nature Reserve, etc.
Day 4: 26 August (Thursday): Plenary session, topic and poster sessions,
workshops and board meeting of Flora Malesiana Foundation.
Day 5: 27 August (Friday): Plenary sessions, topic sessions, closing ceremony
and dinner.

Language: The official language for the symposium is English.

Manuscripts and Abstracts: The proceedings will be published in Gardens Bulletin
Singapore in 2011.

Guidelines for Oral & Poster Presentations:
Poster presentation: A0 or 120 x 80 cm in size.
Oral presentation: PowerPoint presentations are preferred. The time slots are 20 minutes, including 5 minutes for questions and discussion.

Financial Support:
The Singapore Botanic Gardens and NParks have limited funds to support professional and post-graduate student participants from the ASEAN countries. Please contact the Organising Committee for further information.

Passport & Visa:
A valid passport is required for travel to Singapore. Participants from US, UK and most European countries, as well as ASEAN member countries, are exempted from visa entry requirement. Please contact the Embassy or Consulate of Singapore in your respective country for more details.

Personal Invitation:
If you require an Official Letter of Invitation, please contact the Organising Committee. This letter does not represent a commitment of organisers to provide financial support.

Registration:
The registration fee is Singapore $230 (about US $150) when paid before 15 May 2010, and Singapore $300 (about USD $200) after 15 May 2010. The fee for students is Singapore $200 (about US $140), and for accompanying persons is Singapore $150 (about US $100). The registration fee includes conference materials, proceedings (except for accompanying persons), reception, banquet, lunches, welcome and closing dinners, tea breaks, sightseeing tours to Bukit Timah Nature Reserve and Singapore Botanic Gardens. Please note no refunds can be given after 15 May 2010.

All payments must be made in Singapore Dollars before the start of the Symposium, by credit card (Visa or Mastercard), cash or bankers draft. We regret personal cheques cannot be accepted. Please send payment to:

The 8th Flora Malesiana Organising Committee
Singapore Botanic Gardens
1 Cluny Road,
Singapore 259569

Pre- and Post Symposium Tours & Excursions:
To be announced later.

Accommodation:
A selected list of recommended 3 and 4 stars hotels with special discounted rate given to symposium participants will be circulated later. Participants must book their own accommodation.

Deadlines:
Early bird registration fee: May 15, 2010
Application for financial support: May 30, 2010
Abstract Submission: June 15, 2010
Manuscript Submission for the proceedings: September 15, 2010

For registration, please visit: www.sbg.or.sg/fm8



NASIB SOWANG DI PEGUNUNGAN CYCLOOP

Sri Wilujeng
Masalah lingkungan hingga saat ini selalu aktual untuk dibahas, terutama masalah-masalah lingkungan yang berdampak langsung terhadap kehidupan manusia. Global warming, polusi, lubang ozon dan hujan asam menjadi perhatian utama, sementara kepunahan spesies nyaris luput dari perhatian. Kepunahan suatu spesies tidak berdampak langsung terhadap kehidupan manusia secara umum. Bagi masyarakat pada lingkup yang lebih kecil seperti suku tertentu, suatu spesies dapat memiliki arti yang penting secara sosial budaya. Kepunahan spesies penting tidak saja mengganggu keseimbangan sosial budaya, terutama bila spesies tersebut juga memiliki nilai ekonomis. Secara ekologis, kepunahan spesies pada suatu ekosistem berdampak mengganggu keseimbangan ekosistem yang bersangkutan. Spesies merupakan komponen penting dalam ekosistem.
Data Conservation International menunjukkan bahwa Papua merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan keanekaragaman spesies dan endemisitas yang tinggi, namun belum semua spesies-spesies tersebut teridentifikasi. Spesies-spesies endemik adalah spesies yang penyebarannya terbatas, hanya ditemukan pada daerah tertentu. Diperkirakan Papua memiliki sekitar 25.000 spesies tumbuhan berkayu, 164 spesies mamalia, 329 spesies amfibia dan reptilia, 650 spesies burung serta 1.200 spesies ikan laut. Persentase endemisitas spesies di Papua adalah 55 % (13.750 spesies) tumbuhan berkayu, 58 % (95 spesies) mamalia, 35 % (78 spesies) reptilia, 52 % (338 spesies) burung, kurang lebih 150.000 spesies serangga serta ratusan spesies hewan avertebrata air tawar dan laut. Patut disayangkan, sementara identifikasi spesies-spesies endemik belum maksimal dilakukan, gangguan terhadap ekosistem, termasuk didalamnya adalah gangguan-gangguan yang memberi peluang terhadap kepunahan spesies terus berlangsung. Ironis, bila kepunahan terjadi terutama pada spesies-spesies yang belum teridentifikasi.
Spesies endemik Papua yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat adalah spesies-spesies tumbuhan berkayu diantaranya adalah tumbuhan Sowang (Xanthosthemon novaguineense Valet.), tumbuhan yang termasuk dalam family Myrtaceae (jambu-jambuan). Bahkan peneliti dari kebun raya New South Wales menginformasikan bahwa Sowang merupakan tumbuhan endemik pulau Papua New Guinea bagian barat dengan data ilmiah yang sangat terbatas.
Sowang oleh suku-suku setempat disebut dengan berbagai nama yakni Howang malew, Howang hele dan Sonariku. Kayu Sowang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat dalam kegiatan ritual, pembuatan senjata tradisional, perkakas rumah, tiang pagar, tiang rumah, sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan arang. Bagi nelayan yang bertempat tinggal di tepi pantai, kayu Sowang digunakan sebagai tiang-tiang penyangga rumah karena kualitas kayunya termasuk dalam kategori kayu yang tahan terhadap penggerek kayu di laut. Secara komersial, kayu Sowang diperjualbelikan dalam bentuk kayu teras serta dalam bentuk arang.
Daerah habitat tumbuhan Sowang di Jayapura adalah pegunungan Cycloop, tetapi Sowang tumbuh tidak merata di pegunungan Cycloop. Sowang hanya tumbuh di sisi barat, selatan sampai timur pegunungan Cycloop. Pegunungan Cycloop merupakan pegunungan yang membujur di sebelah utara Jayapura. Sejak tahun 1987 kawasan pegunungan Cycloop ditetapkan sebagai cagar alam seluas 22.500 ha. Sisi selatan hingga timur cagar alam pegunungan Cycloop yang menghadap ke kawasan Jayapura ditetapkan pada ketinggian mulai 400 m dpl. Sementara habitat tumbuhan Sowang adalah dataran rendah pada ketinggian 15 – 450 m dpl, oleh karena itu tumbuhan Sowang banyak dijumpai pada kaki pegunungan Cycloop, atau daerah yang tidak termasuk wilayah cagar alam. Habitat Sowang ini kemudian menyusut luasannya karena konversi lahan dan eksploitasi hasil hutan, selebihnya masih dalam bentuk hutan adat yang dikuasai oleh masyarakat suku setempat.
Sowang adalah tumbuhan yang memiliki daya bertahan hidup yang unik. Sowang mampu bertunas setelah bagian batang di atas tanahnya ditebang atau dibakar. Dari satu batang yang ditebang atau dibakar akan tumbuh lebih dari satu tunas atau cabang. Cara percabangan ini tidak lagi monopodial seperti pada individu Sowang yang berasal dari biji, karena batang pokok menghentikan pertumbuhannya. Pada individu Sowang yang berasal dari tunas batang, walaupun masih berukuran anakan tetapi sudah mampu berbunga. Bunga yang dihasilkan merupakan bunga yang mampu menghasilkan biji yang fertil, artinya setiap biji memiliki kemampuan untuk berkecambah dan menjadi individu baru. Fase berbunga ini berlangsung sepanjang tahun. Biji Sowang berbentuk bulat pipih berdiameter 1.5 – 2 mm, ringan, tidak berbulu dan tidak bersayap. Biji kecil dan ringan keluar dari buah pecah di pohon sehingga penyebaran biji dilakukan oleh angin. Perkecambahan biji dan pembungaan pada individu dari tunas sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Perkecambahan dan pembungaan membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi, oleh karena itu individu-individu tersebut lebih banyak terdapat pada daerah-daerah terbuka di hutan-hutan sekunder.
Pada hutan primer, jumlah individu Sowang sangat kecil, pada umumnya berukuran pohon yang berasal dari biji, tidak ada individu yang berasal dari tunas batang, karena tidak ada penebangan atau pembakaran. Frekuensi pembungaan terjadi sekali setahun pada bulan September – Oktober.
Cara percabangan individu Sowang dari tunas batang yang melebar ke samping pada ketinggian yang rendah menempatkan biji-biji Sowang pada media tumbuh (tanah) yang sesuai dengan persyaratan perkecambahan biji Sowang. Pada kondisi demikian, ditambah dengan perbedaan frekuensi berbunga maka individu Sowang dari tunas batang lebih banyak menghasilkan anakan dibandingkan dengan individu Sowang dari biji. Biji pohon Sowang yang berasal dari biji memiliki peluang yang kecil untuk mencapai media tumbuh (tanah) yang sesuai karena jauh dari tanah (ketinggian pohon), selain itu biji ringan sehingga letak jatuh bergantung pada arah angin.
Masyarakat suku Papua umumnya memiliki indigenous knowledge terhadap lingkungannya, demikian pula halnya dengan suku-suku yang berdiam di kaki pegunungan Cycloop terhadap hutan adatnya. Menurut mereka bumi adalah ibu yang harus dihormati sehingga pantang untuk ditambang tanpa kendali. Tanah merupakan identitas dan sumber kehidupan, oleh karena itu dalam mendayagunakan ruang untuk untuk berbagai keperluan diberlakukan sistem zona. Mengutip thesis Yepasedanya (2004) dikemukakan bahwa, masyarakat adat membagi kawasan Cycloop menjadi zona tempat tinggal, zona berkebun, zona pengambilan kayu (termasuk pengambilan hasil hutan lainnya) dan zona terlarang bagi adat (hutan primer), karena menganggap bahwa kawasan Cycloop merupakan warisan nenek moyang yang harus dilindungi.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, individu Sowang lebih banyak terdapat pada zona berkebun dan zona pengambilan kayu. Zona-zona ini menjadi daerah yang lebih terbuka sehingga permukaan tanah menjadi lebih mudah ditembus oleh cahaya matahari. Zona berkebun merupakan daerah yang mengalami pembakaran berulang, sementara pengambilan kayu Sowang di zona pengambilan kayu dilakukan dengan membakar akarnya. Yang mengkhawatirkan, hal-hal di atas menyebabkan individu Sowang tidak pernah menjadi dewasa di zona berkebun dan individu Sowang tidak pernah bertunas di zona pengambilan kayu. Sementara di hutan primer, selain jumlah individu yang kecil, peluang regenerasi juga sangat kecil. Jika demikian, pertanyaan yang timbul adalah bisakah Sowang bertahan di pegunungan Cycloop ?
Jawabannya tentu saja bisa, bila kita kaum pencinta lingkungan mau bergandengan tangan dan bahu membahu menyelamatkan Sowang. Usaha pemerintah daerah dengan memproteksi kawasan menjadi kawasan dilindungi serta sistem zona masyarakat adat ternyata belum cukup melindungi keberadaan populasi Sowang. Perlindungan seharusnya difokuskan pada spesies yang bersangkutan, hal ini hanya bisa dilakukan oleh kaum pencinta lingkungan. Dimulai dari Sowang, kita bisa bergerak pada spesies-spesies endemik dan unik lain karena Sowang hanya merupakan satu dari ribuan spesies endemik dan unik Papua.
Artikel ini pernah dimuat dalam harian Cenderawasih Pos, Edisi 5 Juni 2009
Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Univ. Cenderawasih, Jayapura - Papua

Biak - Wildlife Paradise

Biak is still a relatively unexplored island as far as flora and fauna are concerned and is designated (along with nearby Supiori Island) as a Nature Reserve. Although the rainforest has been disturbed by war during recent history, without regular observance of its natural history there are, almost surely, new species to be discovered. It is a unique place with at least seven endemic bird species; a paradise for birdwatchers and you could still be lucky enough to see all the endemics and a lot more in one day.

There is plenty of very reasonably priced hotel accommodation to suit all pockets and car hire is also possible. To make things much easier you can also hire a car with a driver and guide. Boat trips can be arranged from the Padaido Hotel to the offshore islands and longer trips to Yapen and Numfor are also possible. However it is possible to reach Yapen by air. A trip through the coral reefs is also worth taking for those who may wish to see the Blue-spotted Rays, lobsters and other tropical fish.


Black-backed Butcher Bird

Cracticus mentalis


Biak Paradise Kingfisher

Tanysiptera galatea

Sacred Kingfisher

Halcyon sancta

Claret-breasted Fruit-dove

Ptilinopus viridis


Geelvink Pygmy Parrot

Micropsitta geelvinkiana

Hooded Pitta

Pitta sordida


Long-tailed Starling

Aplonis magna

Metallic Starling

Aplonis metallica


http://www.tonytilford.co.uk

INFO KONFERENSI BIOLOGI NEW GUINEA IX

Pada tanggal 23 - 26 Juli 2008, akan diadakan Konferensi Biologi New Guinea IX di Jayapura, Ibu Kota Provinsi Papua. Bila Anda tertarik silahkan kunjungi: http://biocon2008.blogspot.com
Anda warga Jayapura yang konsen dengan Kehati New Guinea n ingin infonya, silahkan sempatkan waktu Anda tuk jalan-jalan ke kampus Biologi Uncen Waena.